Selasa, 30 Mei 2017
Contoh Bentuk Frase yang ada dalam Artikel
Berikut ini adalah contoh dari frase berdasarkan pada artikel yang ada diatas:
1. Frase Endosentrik Koordinatif
- Tarakan dan Nunukan
- Nunukan atau Malinau
2. Frase Endosentrik Atributif
- Kabupaten Bulungan
- Tingkat Kabupaten
- Rukun Warga
- Tingkat Kepadatan
- Sebagai Pekerja
3. Frase Endosentrik Apositf
- Ilham mengatakan ....
- Sebut kasi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik (IPDS) BPS Bulungan
4. Frase Eksosentrik
- Di Bulungan
- Di Pemerintahan
5. Frase Verbal
- Akan mampu menghasilkan gambaran
6. Frase Adjektival
- Kabupaten Bulungan sebagai ibu kota memiliki jumlah penduduk paling sedikit
- Oleh pekerja banyak menduduki
7. Farase Numeralia
-Jumlah penduduknya mengacu pada sensus selama 10 tahun
8. Frase Nominal dan Pronomina tidak ditemukan
Sabtu, 27 Mei 2017
Karakter Kartun Pembelajaran
Karakter kartun yang saya buat ini yang saya beri nama Mr.kevin .Karena dia mempunyai karakter sifat yang tepat waktu , bertanggung jawab dan bijaksaa dia juga mempunyai sifat yang saling menolong membantu seseorang yang membutuhkan pertolongan yang berada disekitarnya.
Puisi Anak
BUKU
Buku
Kau adalah gudang ilmu
Karena mu aku dapat belajar dan membaca
Dari aku yang tidak tahu menjadi tahu
Buku
Kau adalah sahabatku
Karena mu aku dapat menjadi seorang yang hebat
Karena mu aku dapat menjadi manusia yang berguna
Buku
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yang lebih sukses
Menuju kehidupan yang lebih indah
Dan tanpamu, aku hanyalah
sebatang ranting yang rapuh
Terima kasih buku
Engkau temaniku
Dari kecil hingga aku tumbuh dewasa
Buku
Kau adalah gudang ilmu
Karena mu aku dapat belajar dan membaca
Dari aku yang tidak tahu menjadi tahu
Buku
Kau adalah sahabatku
Karena mu aku dapat menjadi seorang yang hebat
Karena mu aku dapat menjadi manusia yang berguna
Buku
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yang lebih sukses
Menuju kehidupan yang lebih indah
Dan tanpamu, aku hanyalah
sebatang ranting yang rapuh
Terima kasih buku
Engkau temaniku
Dari kecil hingga aku tumbuh dewasa
Selasa, 16 Mei 2017
Menentukan Morfem Bebas dan Morfem Terikat Pada Sebuah Wacana
Tanaman akan tumbuh dengan subur jika dirawat dengan baik. Hal yang wajib dilakukan agar tanaman tumbuh subur adalah menyiraminya dengan teratur. Pemberian pupuk secara teratur juga penting bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk sebaiknya diberi sesuai dengan masa tumbuh tanaman. Waktu pemberian pupuk juga perlu diperhatikan. Perawatan juga dapat dilakukan dengan membersihkan tanaman dari tumbuhan parasit. Selain itu, membersihkan tanaman dengan memotong daun dan ranting kering dapat membuat tanaman terlihat lebih indah
* Yang Background warna merah muda itu merupakan morfem bebas dan tulisan huruf warna biru itu merupakan morfem terikat .
Jumlah morfem bebas yaitu 42
Jumlah morfem terikat yaitu 10
Jumlah keseluruhan morfem yaitu 52
Jumlah morfem bebas yaitu 42
Jumlah morfem terikat yaitu 10
Jumlah keseluruhan morfem yaitu 52
Senin, 15 Mei 2017
Menelusuri Cerita Asal Mulanya Permainan Masa Kecil
1. Asal Usul Permainan Ular Naga
Permainan ular naga merupakan permainan tradisional indonesia. Permainan ini memiliki nama yang berbeda dari setiap daerah, tetapi tata cara permainan dan aturannya tetap sama yang membedakan hanya lagu dan dialognya saja, permainan ini biasanya dimainkan pada waktu sore dan malam hari, dilapangan atau tempat yang luas. Akan tetapi, di dalam permainan ini terdapat mitos rakyat di dalamnya :
Berikut Mitos-mitosnya
- Dibalik syair lagu ular naga terdapat bait-bait yang mengandung ritual persembahan atau pengorbanan "ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar-jalar selalu kian kemari, umpan yang lezat itulah yang dicari, ini dianya yang terbelakang" coba anda baca bait pertama, disana terdapat pemujaan yang memuji muji ular naga, lalu pada bait terakir baru menyerahkan pengorbanan
- Pada awal permainan beberapa anak mengajukan menjadi induk dan gerbang, tujuan menjadi induk dan gerbang. Induk yang dimaksud menurut mitos adalah seorang tertua/kepala adat/kepala suku sedangkan gerbang itu terdapat sebuah simbol yang mana dulu merupakan gerbang goa yang didalamnya terdapat sang naga
- Ketika lagu habis dinyanyikan, anak yang berdiri paling belakang akan ditangkap oleh gerbang, menurut mitos ini bermaksud korban atau persembahan pada jaman dahulu itu dilemparkan ke dalam goa untuk menjadi santapan naga
- Permainan akan dimulai kembali. Dengan terdengarnya nyanyi, ular naga kembali bergerak dan menerobos gerbang, dan lalu ada lagi seorang anak yang ditangkap. Perbantahan lagi. Demikian berlangsung terus, hingga induk akan kehabisan anak dan permainan selesai
2. Permainan Ular Naga
Ular naga adalah satu permainan berkelompok yang biasa dimainkan di luar rumah di waktu sore dan malam hari. Tempat bermainnya di tanah lapangan atau halaman rumah yang agak luas. Lebih menarik apabila dimainkan di bawah cahaya rembulan.Pemainnya biasanya sekitar 5-10 orang, bisa juga lebih, biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak yang berusia 5-12 tahun. Permainan ular naga ini menjadi populer dikalangan anak perempuan karena, permainan ini dilakukan dengan cara sambil bernyanyi. Namun, anak laki-laki juga terkadang ikut memainkan permainan ular naga ini.
3. Media Permainan dan Cara Bermain
- Pemain 5-10 orang
- Lagu untuk mengiringi permainan. Untuk lagu dalam permainan ular naga biasanya menyanyikan lagu ular naga. Namun, lagu tersebut dapat dirubah sesuai dengan keinginan dan para pemain tersebut, berikut lirik dari lagu ular naga ;
versi 1
" ular naga panjangnya bukan kepalang menjalar-jalar selalu kian kemari umpan yang lezat itulah yang dicari ini dia nya yang terbelakang"
versi 2
" ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari umpama lezat inilah yang dicari itu dia nya yang dibelakang"
- Pada mulanya anak-anak yang berperan sebagai ular naga berbaris dengan rapi sampai ke belakang, yang tangkas dalam berbicara berada di paling depan karena dia nantinya yang akan menuntun permainan atau sebagai juru bicaranya
- Kemudian mengitari induk atau bisa disebut juga dengan gerbang masuk naga sambil menyanyikan lagu yang telah tertara di atas
- Pada saat lagu tengah selesai dinyayikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang
- Lalu setelah itu barulah induk angkat bicara, mulailah si induk bernegosiasi dengan gerbang saling bantah membantah prihal anaknya yang telah tertangkap
- Dan pada akhirnya sang anak atau barisan paling belakang memang harus ditangkap begitu seterusnya, lalu anak yang telah disandera disuruh memilih ditempatkan di belakang salah satu orang yang menjadi gerbang
- Penyaderaan anggota akan terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota. Dan kemudian permainan akan diulang membentuk ular naga baru
4. Manfaat Permainan Ular Naga
Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari permainan ular naga. Berikut adalah beberapa manfaat positif yang dapat kita ambil khusunya bagi anak-anak yaitu :
a. Semakin mempererat ikatan kita dengan teman
b. Belajar berbagi dan belajar bagaimana kita mempertahankan teman kita
c. Belajar menjadi pemimpin yang baik bagi adik-adik kita
d. Akan terlatih emosional dan kecakapannya dalam berkomunikasi
e. Selai itu permainan ini juga mendidik anak tentang arti kebersamaan dan menghargai orang lain, tanpa menghiraukan adanya kemenangan atau kekalahan yang diperoleh pada saat bermain
Permainan ular naga merupakan permainan tradisional indonesia. Permainan ini memiliki nama yang berbeda dari setiap daerah, tetapi tata cara permainan dan aturannya tetap sama yang membedakan hanya lagu dan dialognya saja, permainan ini biasanya dimainkan pada waktu sore dan malam hari, dilapangan atau tempat yang luas. Akan tetapi, di dalam permainan ini terdapat mitos rakyat di dalamnya :
Berikut Mitos-mitosnya
- Dibalik syair lagu ular naga terdapat bait-bait yang mengandung ritual persembahan atau pengorbanan "ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar-jalar selalu kian kemari, umpan yang lezat itulah yang dicari, ini dianya yang terbelakang" coba anda baca bait pertama, disana terdapat pemujaan yang memuji muji ular naga, lalu pada bait terakir baru menyerahkan pengorbanan
- Pada awal permainan beberapa anak mengajukan menjadi induk dan gerbang, tujuan menjadi induk dan gerbang. Induk yang dimaksud menurut mitos adalah seorang tertua/kepala adat/kepala suku sedangkan gerbang itu terdapat sebuah simbol yang mana dulu merupakan gerbang goa yang didalamnya terdapat sang naga
- Ketika lagu habis dinyanyikan, anak yang berdiri paling belakang akan ditangkap oleh gerbang, menurut mitos ini bermaksud korban atau persembahan pada jaman dahulu itu dilemparkan ke dalam goa untuk menjadi santapan naga
- Permainan akan dimulai kembali. Dengan terdengarnya nyanyi, ular naga kembali bergerak dan menerobos gerbang, dan lalu ada lagi seorang anak yang ditangkap. Perbantahan lagi. Demikian berlangsung terus, hingga induk akan kehabisan anak dan permainan selesai
2. Permainan Ular Naga
Ular naga adalah satu permainan berkelompok yang biasa dimainkan di luar rumah di waktu sore dan malam hari. Tempat bermainnya di tanah lapangan atau halaman rumah yang agak luas. Lebih menarik apabila dimainkan di bawah cahaya rembulan.Pemainnya biasanya sekitar 5-10 orang, bisa juga lebih, biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak yang berusia 5-12 tahun. Permainan ular naga ini menjadi populer dikalangan anak perempuan karena, permainan ini dilakukan dengan cara sambil bernyanyi. Namun, anak laki-laki juga terkadang ikut memainkan permainan ular naga ini.
3. Media Permainan dan Cara Bermain
- Pemain 5-10 orang
- Lagu untuk mengiringi permainan. Untuk lagu dalam permainan ular naga biasanya menyanyikan lagu ular naga. Namun, lagu tersebut dapat dirubah sesuai dengan keinginan dan para pemain tersebut, berikut lirik dari lagu ular naga ;
versi 1
" ular naga panjangnya bukan kepalang menjalar-jalar selalu kian kemari umpan yang lezat itulah yang dicari ini dia nya yang terbelakang"
versi 2
" ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari umpama lezat inilah yang dicari itu dia nya yang dibelakang"
- Pada mulanya anak-anak yang berperan sebagai ular naga berbaris dengan rapi sampai ke belakang, yang tangkas dalam berbicara berada di paling depan karena dia nantinya yang akan menuntun permainan atau sebagai juru bicaranya
- Kemudian mengitari induk atau bisa disebut juga dengan gerbang masuk naga sambil menyanyikan lagu yang telah tertara di atas
- Pada saat lagu tengah selesai dinyayikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang
- Lalu setelah itu barulah induk angkat bicara, mulailah si induk bernegosiasi dengan gerbang saling bantah membantah prihal anaknya yang telah tertangkap
- Dan pada akhirnya sang anak atau barisan paling belakang memang harus ditangkap begitu seterusnya, lalu anak yang telah disandera disuruh memilih ditempatkan di belakang salah satu orang yang menjadi gerbang
- Penyaderaan anggota akan terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota. Dan kemudian permainan akan diulang membentuk ular naga baru
4. Manfaat Permainan Ular Naga
Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari permainan ular naga. Berikut adalah beberapa manfaat positif yang dapat kita ambil khusunya bagi anak-anak yaitu :
a. Semakin mempererat ikatan kita dengan teman
b. Belajar berbagi dan belajar bagaimana kita mempertahankan teman kita
c. Belajar menjadi pemimpin yang baik bagi adik-adik kita
d. Akan terlatih emosional dan kecakapannya dalam berkomunikasi
e. Selai itu permainan ini juga mendidik anak tentang arti kebersamaan dan menghargai orang lain, tanpa menghiraukan adanya kemenangan atau kekalahan yang diperoleh pada saat bermain
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Penelusuran perkembangan bahasa indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu bertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasasti itu mengungkapkan sesuatu yang menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu. Nama-nama prasasti adalah:
- Kedukan Bukit (683 Masehi)
- Talang Tuwo (684 Masehi)
- Kota Kapur (686 Masehi)
- Karang Brahi (686 Masehi)
- Gandasuli (832 Masehi)
- Bogor (942 Masehi) dan
- Pagaruyung (1356) (Abas, 1987:24)
Prasasti-prasasti itu memuat tulisan Melayu Kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta.
- Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi sungai Tatang di Sumatra Selatan, yang bertahun 683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat nama Sriwijaya
- Prasasti Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka, menjelaskan tentang konstruksi bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas printah Hyang Sri Jayanaca sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri. Prasasti ini juga memuat berbagai mantra suci dan berbagai doa untuk keselamatan raja.
- Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangsa dan Prasasti Karang Brahi di Kambi, keduanya bertahun 686 Masehi atau 608 Saka, isinya hampir sama, yaitu permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan kerajaan Sriwijaya, agar menghukum para penghianat dan orang-orang yang memberontak kedaulatan raja. Juga berisi permohonan keselamatan bagi mereka yang patuh, taat dan setia kepada raja Sriwijaya.
Selain berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan sumber informasi tentang asal-usul bahasa Melayu. Sejarah kuno negeri Cina turut membuktikan tentang keberadaan bahasa Melayu tersebut. Pada awal masa penyebaran agama Kristen, pengembara-pengembara cina yang berkunjung ke Kepulauan Nusantara menjumpai adanya berbagai lingua france yang mereka namai Kw'en Lun di Asia Tenggara. Salah satu di antara Kw'en lun itu oleh I Tsing diidentifikasi di dalam Chronicle-nya sebagai bahsa melayu. Untuk keperluan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, Traktat London (Perjanjian London) 1824 antara pemerintah inggris dan Belanda merupakan tonggak sejarah yang sangat pentig. Sebab, pada traktat itu antara lain berisi kesepakatan pembagia dua wilayah, yaitu:
- Semanajung Melayu dan Singapura beserta pulau-pulau kecilnya menjadi kekuasaan kolonial Inggris;dan
- Kepulauan Nusantara (Kepulauan Sunda besar: pulau-pulau Sumatera,Jawa, sebagian Borneo/ Kalimantan, dan Sulawesi, Kepulauan Sunda kecil: pulau-pulau Bali, Lombok, Flores, Sumbawa, Sumba, Sebagian Timor, dan lain-lain ; Kepulauan Maluku dan sebagian Irian) menjadi kekuasaan kolonial Belanda
" Bahasa mereka, yaitu bahsa Melayu bukan saja digunakan di pantai-pantai tanah Melayu, melainkan juga di seluruh India dan di negeri-negeri sebelah timur. Di mana pun bahasa ini dipahami oleh setiap orang. Bahasa ini bagaikan bahasa Prancis atau bahasa latin di Eropa, atau semacam bahasa perantara di Itali atau di Levent. Oleh karena banyaknya bahasa ini digunakan, maka seseorang yang mampu bertutur dalam bahasa Melayu akan dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun Filipina."
Bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Karena sifat kekunoannya itu, banyak ahli bahasa menyebut bahasa pada era Kerajaan Sriwijaya itu sebagai bahasa Melayu Kuno. Sementara itu, bahasa Melayu pada sub-era Kerajaan Riau atau Kerajaan Melayu Riau sama sekali tidak dipengaruhi oleh bahasa sansekerta dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Riau. Oleh sebab itu, bahasa ini disebut "Bahasa-bahasa Melayu Riau". Terdapat tiga periode dalam sub-era ini, seperti diuraikan berikut ini. Seperti telah dikatakan sebelumnya, tentara kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Tumasik yang memaksa pusat kekuasaannya dipindahkan ke Malaka di Semenanjung Malaya. Adat-istiadat dan bahasa yang dibawa dari Tumasik dipertahankan, dan mulai saat itu dan seterusnya bahasa Melayu Riau berkembang dan tersebar ke hampir seluruh penjuru Semenanjung Melaya.
Kerajaan Malaka berkibar selama hampir 100 tahun. Lokasinya yang berbeda di pintu gerbang Selat Malaka, yaitu rute lalu lintas pelayaran yang ramai dan penting yang menghubungkan antara Asia Timur dan Asia barat, antara Asia timur dan Eropa, antara Samudra India dan Laut Cina Selatan dan antara Samudra India dan Samudra Pasifik, Malaka merupakan pelabuhan yang paling sibuk di kawasan Asia Yenggara pada waktu itu.
Pada peralihan abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama islam. Menjelmanya kota itu menjadi pusat penyebaran agama islam. Dengan demikian, Malaka menjadi pusat dua kegiatan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama islam. Sebenarnya, kedua kegiatan ini terlaksana secara bersamaan, sebab para guru dan penganjur agama islam, dalam melaksanakn misinya itu, mengikuti perjalanan para pelaut dan pedagang, mempergunakan bahasa Melayu.
Pada tahun 1511, misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Pusat perkembangan dan penyebaran bahsa Melayu, dam penyebaran ajaran agama islam pindah ke Johor. Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu tetap berlangsung.Berkat orang Protugis, penggunaan bahasa Melayu tidak terbatas hanya di kawasan Asia Tenggara saja, melainkan meluas ke pusat-pusat perdagangan di India dan Cina Selatan. Sebagai bukti, Arranari, seorang pengarang dan teolog islam yang lahir dan besar di India telah menguasai bahasa Melayu dengan baik ketika ia tiba di Aceh tahun 1637. Hal ini hanya mungkin apabila bahasa Melayu telah banyak dipergunakan di Gujarat pada masa itu (Alisjahbana dalam Fishman, 1974 :394). Bahasa Melayu menambah jalannya juga ke benua Eropa dalam abad ke-16. Karena bahasa Melayu lah yang dipergunakan oleh para raja atau pangeran Melayu ketika berkomunikasi dengan raja Protugis. Pada waktu yang sama, St. Francis Xavier mempergunakan bahasa Melayu untuk mengajak penduduk Maluku memeluk agama Kristen. Xavier sendiri mengatakan bahwa bahasa melayu merupakan bahasa yang dimengerti oleh hampir setiap orang.
Pada tahun 1719 Raca Kecil, dari Istana Kerajaan Johor, dipaksa memindahkan pusat kekuasaannya ke Ulu Riau, di Pulau Bintan, salah satu pulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu periode Kerajaan Riau dan Lingga. Dalam periode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri ke-Riau-annya, dan bahasa Melayu Riau inilah yang merupakan cikal bikal bahasa Nasional Indonesia yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 191, ketika kerajaan itu dihapus oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga momentum yang panting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa Melayu Riau, yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir ; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul Katiban, suatu tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau; dan tahun 1894, ketika percetakan Mathba'atul Riauwiyah atau Mathbah'atul Ahmadiyah didirika. Pengoperasian percetakan Mathba'atul Riauwiyah ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara. Yang lebih penting adalah usaha pembakuan bahasa Melayu Riau sudah dimulai. Selama perang antara Prancis dan Ingris yang berlangsung di Eropa, yang berakibat Negeri Belanda sempat diduduki Peranci beberapa tahun, selama itu terjadi pula perang antara kekuasaan Ingris di Asia Tenggara dan kekuasan Belanda yang tunduk kepada Pemerintah Perancis di Kepulauan Nusantara. Dari sudut pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, konflik antara Inggris dan Belanda sangat penting, karena konfrontasi antarkedua kekuasaan itu berakhir pada pembagian kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua, berdasarkan variasi bahasa Melayu yang dipergunakan di kawasan itu, yaitu bahasa Melayu Johor dan bahasa Melayu riau. Bahasa Melayu Riau dan Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, berkembang dan menyebar dengan dengan sangat pesat, sesuai dengan keperluan masyarakat yang bersangkutan sebagai alat komunikasi lisan. Bahkan, sejak berlakunya Persetujuan London atau Traktat London, bahasa Melayu Riau mendapat status yang baik dalam kesusastraan dunia. Berbagai karya kesusastraan yang cukup tinggi nilainya yang ditulis oleh penutur asli bahasa Melayu Riau diterbitkan. Pada tahun 1857, misalnya Raja Ali Haji menerbitkan bukunya yang berjudul Bustanul Katiban, sebuah buku tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau. Buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga, dan di Singapora.
Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendiri. Di samping itu, bahasa Melayu yang sejak dulu lingua franca meningkat statusnya menjadi bahasa yang memiliki norma supra-etnik dikuasi oleh hampir semua orang yang suka belayar atau bepergian ke mana-mana.
Daftar Pustaka
Zulkifli, dkk. 2012. Bahasa Indonesia. Tarakan: Universitas Borneo Tarakan
Ilmu sastra, Teori sastra , Sejarah sastra dan Kritik sastra
Pengertian Teori sastra, kritik sastra dan sejarah sastra
Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori , kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahun dari suatu titik pandangan tertentu.Suatu teori dapat didedukasi secara logis dan dicek kebenarannya ( diverifikasi) aau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.
kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra . Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterar, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.
Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik
Hubungan Teori sastra, Kritik sastra dan Sejarah sastra
Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah , mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra.
Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. sejarah sastra adalah bagian dari llmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada priode-priode tertentu .
SINTAKSIS
Sintaksis adalah cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase. (Ramlan)
Frase merupakan gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan)
Jenis Frase
1. Frase Endosentrik
a. Frase Endosentrik Koordinatif
"Frase yang unsur-unsurnya setara dalam kalimat dapat dihubungkan dengan kata dan, atau"
contoh : Rumah pekarangan
Kakek nenek
b. Frase Endosentrik Atributif
" Frase yang unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau"
contoh : Buku baru
Sedang belajar
c. Frase Endosentrik Apositif
"Frase yang unsurnya baik saling menggantikan dengan kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau"
contoh : Amin, anak pak Darto sedang belajar
2. Frase Eksosentrik
"Frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya"
contoh : di pasar
ke sekolah
Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata
a. Frase Verbal
" satuan bahasa uang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan verba (kerja) sebagai intinya dan tidak merupakan klausa ( berpotensi menjadi kalimat) "
contoh : Kapal laut itu sudah berlabuh
Ibu saya belum pergi
b. Frase Nominal
" satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa"
contoh : Bapak membeli tiga buah kue
Rita makan beberapa butir telur
c. Frase Adjektiva
" satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa"
contoh : Nenek kakekku sangan gembira
Lukisan itu sangat indah
d. Frase Pronomina
"satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang)dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat
contoh : Saya sendiri akan pergi ke sekolah
Kami sekalian akan berkunjung ke Balikpapan
e. Frase Numeralia
" dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia"
contoh : Dua buah rumah sedang Terbakar
Frase merupakan gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan)
Jenis Frase
1. Frase Endosentrik
a. Frase Endosentrik Koordinatif
"Frase yang unsur-unsurnya setara dalam kalimat dapat dihubungkan dengan kata dan, atau"
contoh : Rumah pekarangan
Kakek nenek
b. Frase Endosentrik Atributif
" Frase yang unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau"
contoh : Buku baru
Sedang belajar
c. Frase Endosentrik Apositif
"Frase yang unsurnya baik saling menggantikan dengan kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau"
contoh : Amin, anak pak Darto sedang belajar
2. Frase Eksosentrik
"Frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya"
contoh : di pasar
ke sekolah
Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata
a. Frase Verbal
" satuan bahasa uang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan verba (kerja) sebagai intinya dan tidak merupakan klausa ( berpotensi menjadi kalimat) "
contoh : Kapal laut itu sudah berlabuh
Ibu saya belum pergi
b. Frase Nominal
" satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa"
contoh : Bapak membeli tiga buah kue
Rita makan beberapa butir telur
c. Frase Adjektiva
" satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa"
contoh : Nenek kakekku sangan gembira
Lukisan itu sangat indah
d. Frase Pronomina
"satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang)dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat
contoh : Saya sendiri akan pergi ke sekolah
Kami sekalian akan berkunjung ke Balikpapan
e. Frase Numeralia
" dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia"
contoh : Dua buah rumah sedang Terbakar
MORFOLOGI
Morfologi ialah cabang tata bahasa yang mempelajari seluk-beluk kata
morfem yang berdekatan dengan alomorf dan morfotonemik
Macam-macam proses morfologis
1. Proses pembubuhan Afiks ( afiksasi)
afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat berdiri sendiri . kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja dan lain-lain. penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
Afiksasi terdiri atas
a. Prefiks yaitu awalan atau unsur lingual yang melekat pada bagian awal kata dasar
contoh : me-, ber- , di- , ke- , ter- , se-
b. Sufiks yaitu akhiran atau unsur lingual yang melekat pada bagian akhir kata dasar
contoh : -kan, -i ,-an
c. Infiks yaitu sisipan atau unsur lingual yang menyisip pada bagian tengah kata dasar
contoh : -el-, -em- , -er-, -in-
d. Konfiks yaitu gabungan prefiks dan sufiks pada sebuah kata dasar
contoh :
me - kan-i , ber + an/kan
e. Simulfiks yaitu melekatnya prefiks dan sufiks bersama-sama pada kata dasar
contoh ke-an
2. Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
komposisi adalah proses kata pemajemukan. kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953) contoh : Keras + kepala = Keras kepala
Kamar + mandi = Kamar mandi
Kumis + Kucing = Kumis kucing
kumis kucing dalam arti " sejenis tanaman" adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti " kumis dari seekor kucing" bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan
3. Pengulangan ( Reduplikasi)
pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh maupun sebagian baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah-rumah dari bentuk dasar rumah
setiap kata ulang sudah pasti memiliki bentuk dasar. kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir dan lainnya dalam tinjauan deskritif tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari dereta morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. secara historik atau komparatif mungkin kata-kata itu dapat dimasukkan kedalam golongan kata ulang.
Pengertian morfem
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal, morfem mempunyai makna.
menurut bentuk dan maknanya, morfem dibagi menjadi 2 :
1. morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain. semua kata dasar tergolong morfem
2. morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. semua imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat
dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata, frase, klausa, kalimat. dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan
contoh :
dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingkan dengan kata
1. di ambil-ambil
2. di bawa-bawa
3. di curi-curi
4. di dukung-dukung
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
morfem yang berdekatan dengan alomorf dan morfotonemik
Macam-macam proses morfologis
1. Proses pembubuhan Afiks ( afiksasi)
afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat berdiri sendiri . kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja dan lain-lain. penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
Afiksasi terdiri atas
a. Prefiks yaitu awalan atau unsur lingual yang melekat pada bagian awal kata dasar
contoh : me-, ber- , di- , ke- , ter- , se-
b. Sufiks yaitu akhiran atau unsur lingual yang melekat pada bagian akhir kata dasar
contoh : -kan, -i ,-an
c. Infiks yaitu sisipan atau unsur lingual yang menyisip pada bagian tengah kata dasar
contoh : -el-, -em- , -er-, -in-
d. Konfiks yaitu gabungan prefiks dan sufiks pada sebuah kata dasar
contoh :
me - kan-i , ber + an/kan
e. Simulfiks yaitu melekatnya prefiks dan sufiks bersama-sama pada kata dasar
contoh ke-an
2. Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
komposisi adalah proses kata pemajemukan. kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953) contoh : Keras + kepala = Keras kepala
Kamar + mandi = Kamar mandi
Kumis + Kucing = Kumis kucing
kumis kucing dalam arti " sejenis tanaman" adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti " kumis dari seekor kucing" bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan
3. Pengulangan ( Reduplikasi)
pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh maupun sebagian baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah-rumah dari bentuk dasar rumah
setiap kata ulang sudah pasti memiliki bentuk dasar. kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir dan lainnya dalam tinjauan deskritif tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari dereta morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. secara historik atau komparatif mungkin kata-kata itu dapat dimasukkan kedalam golongan kata ulang.
Pengertian morfem
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal, morfem mempunyai makna.
menurut bentuk dan maknanya, morfem dibagi menjadi 2 :
1. morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain. semua kata dasar tergolong morfem
2. morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. semua imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat
dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata, frase, klausa, kalimat. dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan
contoh :
dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingkan dengan kata
1. di ambil-ambil
2. di bawa-bawa
3. di curi-curi
4. di dukung-dukung
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
TUGAS FONOLOGI
Konsonan vokal a
penyelesaiannya : lidah pada posisi bawah dan bibir berbentuk bulat
konsonan vokal i
pemyelesaiannya : lidah pada posisi tinggi dan bibir berbentuk pipih
konsonan vokal u
penyelesaiannya : lidah pada posisi netral dan bibir berbentuk bulat
konsonan vokal e
penyelesaiannya : lidah pada posisi tinggi dan bibir berbentuk pipih
konsonan vokal o
penyelesaiannya : lidah pada posisi bawah dan bibir berbentuk bulat
konsonan b
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan c
penyelesaiannya : konsonan yang artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan d
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan f
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
konsonan g
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan h
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru menggesek dinding tenggorokan/laring
konsonan j
penyelesaiannya :konsonan lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan k
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan l
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan m
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan n
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan p
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan q
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan r
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulas
konsonan s
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan t
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator diantara dentum atas dan dentum bawah
konsonan v
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
konsonan w
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan x
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut
konsonan y
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan z
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster kh
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster sy
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster ng
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai titik artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster ny
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
penyelesaiannya : lidah pada posisi bawah dan bibir berbentuk bulat
konsonan vokal i
pemyelesaiannya : lidah pada posisi tinggi dan bibir berbentuk pipih
konsonan vokal u
penyelesaiannya : lidah pada posisi netral dan bibir berbentuk bulat
konsonan vokal e
penyelesaiannya : lidah pada posisi tinggi dan bibir berbentuk pipih
konsonan vokal o
penyelesaiannya : lidah pada posisi bawah dan bibir berbentuk bulat
konsonan b
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan c
penyelesaiannya : konsonan yang artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan d
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan f
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
konsonan g
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan h
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru menggesek dinding tenggorokan/laring
konsonan j
penyelesaiannya :konsonan lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan k
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan l
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan m
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan n
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan p
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan q
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan r
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulas
konsonan s
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan t
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator diantara dentum atas dan dentum bawah
konsonan v
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
konsonan w
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan x
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut
konsonan y
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan z
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster kh
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster sy
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster ng
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai titik artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster ny
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
Fonologi
FONOLOGI
Fonologi ialah cabang tata bahasa yang mempelajari bunyi bahasa
Fonologi memiliki 2 cabang sub kajian yaitu fonemik dan fonetik
Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari alat dan proses pembentukan fonem
Alat ucap manusia
1. Labium bawah
2. Labium atas
3. Dentum
4. Apek / ujung lidah
5. Alveolum / lekung kaki gigi
6. Palatum / langit-langit keras
7. Lamino / daun lidah
8. Velum / langit-langit lunak
9. Dorsum / belakang lidah
10. Uvula / anak tekak
11. Epiglotis / kelap jakun
12. Pharin / pangkal tenggorokan
13. Larin / rongga tenggorokan
14. Pita suara
Alat-alat ucap manusia diatas terbagi menjadi 3 golongan berdasarkan fungsinya masing-masing yaitu
1. Artikulator yaitu alat ucap yang bergerak
a. Labium bawah
b. Apek / ujung lidah
c. Lamino / daun lidah
d. Dorsum
2. Titik artikulasi alat ucap yang menjadi tempat tumpuan terjadinya bunyi bahasa
1. Labium atas
2. Dentum
3. Alveolum
4. Palatum
5. Velum
3. Alat-alat akustik yaitu alat ucap yang paling vital perananya dalam proses pembentukan bunyi bahasa
a. Nasal / rongga hidung
b. Oral / rongga mulut
c. Uvula
d. Epiglotis
e. Pharinx
f. Larinx
g. Pita suara
Pembagian konsonan / bunyi bahasa berdasarkan alat ucap
1. Konsonan dilabial / labium bibir
Yaitu konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan B dan P
2. Konsonan labium dental
Yaitu konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan F dan V
3. Konsonan apikointerdental
Yaitu yang terjadi karena apek sebagai artikulator diantara dentum atas dan dentum bawah
contoh : konsonan T
4. Konsonan apikoalveolar
Yaitu konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan D dan N
5. Konsonan laminopalatal
Yaitu lamoni sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan C, J , S dan Z
6. Konsonan Dorsovelar
Yaitu konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan G dan K
7. Konsonan Glotal
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru membentuk epiglotis
8. Konsonan laringal
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru menggesek dinding tenggorokan / laring
contoh : konsonan H
9. Konsonan Nasal
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga hidung
contoh : Konsonan M dan N
10. Konsonan Oral
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut
contoh : konsonan B ,C , D, F dan G
Vokal
Jenis-jenis vokal dapat diketahui melalui
a. Posisi lidah
1. Vokal tinggi yaitu lidah pada posisi tinggi ketika vokal ini diucapkan
contoh : I dan E
2. Vokal tengah yaitu lidah pada posisi netral
contoh : E dan U
3. Vokal bawah yaitu lidah pada posisi bawah/rendah
contoh : A dan O
b.Bentuk bibir
1. Vokal pipih yaitu bibir berbentuk pipih
contoh : I dan E
2. Vokal bulat/bundar
contoh : A,U dan O
Fonologi ialah cabang tata bahasa yang mempelajari bunyi bahasa
Fonologi memiliki 2 cabang sub kajian yaitu fonemik dan fonetik
Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari alat dan proses pembentukan fonem
Alat ucap manusia
1. Labium bawah
2. Labium atas
3. Dentum
4. Apek / ujung lidah
5. Alveolum / lekung kaki gigi
6. Palatum / langit-langit keras
7. Lamino / daun lidah
8. Velum / langit-langit lunak
9. Dorsum / belakang lidah
10. Uvula / anak tekak
11. Epiglotis / kelap jakun
12. Pharin / pangkal tenggorokan
13. Larin / rongga tenggorokan
14. Pita suara
Alat-alat ucap manusia diatas terbagi menjadi 3 golongan berdasarkan fungsinya masing-masing yaitu
1. Artikulator yaitu alat ucap yang bergerak
a. Labium bawah
b. Apek / ujung lidah
c. Lamino / daun lidah
d. Dorsum
2. Titik artikulasi alat ucap yang menjadi tempat tumpuan terjadinya bunyi bahasa
1. Labium atas
2. Dentum
3. Alveolum
4. Palatum
5. Velum
3. Alat-alat akustik yaitu alat ucap yang paling vital perananya dalam proses pembentukan bunyi bahasa
a. Nasal / rongga hidung
b. Oral / rongga mulut
c. Uvula
d. Epiglotis
e. Pharinx
f. Larinx
g. Pita suara
Pembagian konsonan / bunyi bahasa berdasarkan alat ucap
1. Konsonan dilabial / labium bibir
Yaitu konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan B dan P
2. Konsonan labium dental
Yaitu konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan F dan V
3. Konsonan apikointerdental
Yaitu yang terjadi karena apek sebagai artikulator diantara dentum atas dan dentum bawah
contoh : konsonan T
4. Konsonan apikoalveolar
Yaitu konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan D dan N
5. Konsonan laminopalatal
Yaitu lamoni sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan C, J , S dan Z
6. Konsonan Dorsovelar
Yaitu konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan G dan K
7. Konsonan Glotal
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru membentuk epiglotis
8. Konsonan laringal
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru menggesek dinding tenggorokan / laring
contoh : konsonan H
9. Konsonan Nasal
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga hidung
contoh : Konsonan M dan N
10. Konsonan Oral
Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut
contoh : konsonan B ,C , D, F dan G
Vokal
Jenis-jenis vokal dapat diketahui melalui
a. Posisi lidah
1. Vokal tinggi yaitu lidah pada posisi tinggi ketika vokal ini diucapkan
contoh : I dan E
2. Vokal tengah yaitu lidah pada posisi netral
contoh : E dan U
3. Vokal bawah yaitu lidah pada posisi bawah/rendah
contoh : A dan O
b.Bentuk bibir
1. Vokal pipih yaitu bibir berbentuk pipih
contoh : I dan E
2. Vokal bulat/bundar
contoh : A,U dan O
Langganan:
Postingan (Atom)



