Selasa, 06 Juni 2017

Sastra anak

Rangkuman tentang sastra anak

Pengertian Apresiasi Sastra Anak-anak
Apresiasi berasal dari bahasa latin apreciatio yang berarti "mengindahkan" atau "menghargai". Berari secara harpiah apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra. Munculnya penghargaan (yang positif) terhadap karya sastra merupakan manifestasi dari adanya pengetahuan tentang sastra, serta pengalaman keterampilan bersastra, baik secara reseptif maupun secara produktif. Sastra anak-anak dapat dikatakan bahwa suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa melainkan juga bentuk drama

Manfaat Apresiasi Sastra
Huck ( 1987) yang mengemukakan dua manfaat apresiasi sastra, yakni;
1. Nilai personal : Memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional
2. Nilai Pendidikan : Membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca, meningkatkan keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra

Jenis Karya Sastra Anak
1. Puisi
Puisi merupakan karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relatif memperhatikan irama dan rima sehingga sungguh indah dan efektif didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan bentuk karya sastra lainnya. puisi terbagi atas : puisi naratif, puisi lirik dan puisi deskriptif
a. Puisi Naratif adalah puisi isinya berupa cerita, penyair menyampaikan gagasannya dalam bentuk puisi dengan cara naratif yang didalamnya tergambar ada pelaku yang berkisah.
b. Puisi Lirik adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadinya dengan cara tidak bercerita. puisi lirik dapat berupa pengungkapan pujaan terhadap seseorang
c. Puisi Deskriptif penyair yang mengungkapkan gagasannya dengan cara melukiskan sesuatu untuk mengungkapkan kesan, peristiwa, pengalaman menarik yang pernah dialaminya. Misalnya puisi yang menggambarkan keindahan alam

2. Prosa
Prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas rangkaian bait demi bait tetapi dibuat atas rangkaian paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur-unsur seperti tempat, waktu, suasana, kejadian, alur, peristiwa, pelaku berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif. Prosa terbagi atas : prosa fiksi sains, prosa fiksi realistik, prosa fiksi imajinatif
a. Prosa Fiksi Sains adalah cerita fiksi yang disusun dengan menekankan pada isi yang ingin disampaikan. isi yang disampaikan berupa ilmu pengetahuan (sains) atau bersifat faktual
b. Prosa Fiksi Realistik adalah cerita yang disusun dengan tujuan menyampaikan sesuatu yang mengandung nilai-nilai kehidupan yang logis, baik berkaitan dengan etika, moral, relegius, dan nilai-nilai lainnya
c. Prosa Fiksi Imajinatif adalah adalah cerita yang didalamnya menyajikan rangkaian peristiwa yang pelaku-pelakunya hanya ada dalam dunia imajinasi pengarang, tidak ada dalam kehidupan sehari-hari

Selasa, 30 Mei 2017

Contoh Bentuk Frase yang ada dalam Artikel













Berikut ini adalah contoh dari frase berdasarkan pada artikel yang ada diatas:
1. Frase Endosentrik Koordinatif
- Tarakan dan Nunukan
- Nunukan atau Malinau

2. Frase Endosentrik Atributif
- Kabupaten Bulungan
- Tingkat Kabupaten
- Rukun Warga
- Tingkat Kepadatan
- Sebagai Pekerja

3. Frase Endosentrik Apositf
- Ilham mengatakan ....
- Sebut kasi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik (IPDS) BPS Bulungan

4. Frase Eksosentrik
- Di Bulungan
- Di Pemerintahan

5. Frase Verbal
- Akan mampu menghasilkan gambaran 

6. Frase Adjektival
- Kabupaten Bulungan sebagai ibu kota memiliki jumlah penduduk paling sedikit
- Oleh pekerja banyak menduduki

7. Farase Numeralia
-Jumlah penduduknya mengacu pada sensus selama 10 tahun 

8. Frase Nominal dan Pronomina tidak ditemukan

Sabtu, 27 Mei 2017

Karakter Kartun Pembelajaran

Karakter kartun yang saya buat ini yang saya beri nama Mr.kevin .Karena dia mempunyai karakter sifat yang tepat waktu , bertanggung jawab dan bijaksaa dia juga mempunyai sifat yang saling menolong membantu seseorang yang membutuhkan pertolongan yang berada disekitarnya.




Puisi Anak

BUKU

Buku
Kau adalah gudang ilmu
Karena mu aku dapat belajar dan membaca
Dari aku yang tidak tahu menjadi tahu

Buku
Kau adalah sahabatku
Karena mu aku dapat menjadi seorang yang hebat
Karena mu aku dapat menjadi manusia yang berguna

Buku
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yang lebih sukses
Menuju kehidupan yang lebih indah

Dan tanpamu, aku hanyalah
sebatang ranting yang rapuh

Terima kasih buku
Engkau temaniku
Dari kecil hingga aku tumbuh dewasa

Selasa, 16 Mei 2017

Menentukan Morfem Bebas dan Morfem Terikat Pada Sebuah Wacana

Tanaman akan tumbuh dengan subur jika dirawat dengan baik. Hal yang wajib dilakukan agar tanaman tumbuh subur adalah menyiraminya dengan teratur. Pemberian pupuk secara teratur juga penting bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk sebaiknya diberi sesuai dengan masa tumbuh tanaman. Waktu pemberian pupuk juga perlu diperhatikan. Perawatan juga dapat dilakukan dengan membersihkan tanaman dari tumbuhan parasit. Selain itu, membersihkan tanaman dengan memotong daun dan ranting kering dapat membuat tanaman terlihat lebih indah  

* Yang Background warna merah muda itu merupakan morfem bebas dan tulisan huruf warna biru itu merupakan morfem terikat .
Jumlah morfem bebas yaitu 42
Jumlah morfem terikat yaitu 10
Jumlah keseluruhan morfem yaitu 52

Senin, 15 Mei 2017

Menelusuri Cerita Asal Mulanya Permainan Masa Kecil

1. Asal Usul Permainan Ular Naga
Permainan ular naga merupakan permainan tradisional indonesia. Permainan ini memiliki nama yang berbeda dari setiap daerah, tetapi tata cara permainan dan aturannya tetap sama yang membedakan hanya lagu dan dialognya saja, permainan ini biasanya dimainkan pada waktu sore dan malam hari, dilapangan atau tempat yang luas. Akan tetapi, di dalam permainan ini terdapat mitos rakyat di dalamnya :
Berikut Mitos-mitosnya
- Dibalik syair lagu ular naga terdapat bait-bait yang mengandung ritual persembahan atau pengorbanan "ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar-jalar selalu kian kemari, umpan yang lezat itulah yang dicari, ini dianya yang terbelakang" coba anda baca bait pertama, disana terdapat pemujaan yang memuji muji ular naga, lalu pada bait terakir baru menyerahkan pengorbanan
- Pada awal permainan beberapa anak mengajukan menjadi induk dan gerbang, tujuan menjadi induk dan gerbang. Induk yang dimaksud menurut mitos adalah seorang tertua/kepala adat/kepala suku sedangkan gerbang itu terdapat sebuah simbol yang mana dulu merupakan gerbang goa yang didalamnya terdapat sang naga
- Ketika lagu habis dinyanyikan, anak yang berdiri paling belakang akan ditangkap oleh gerbang, menurut mitos ini bermaksud korban atau persembahan pada jaman dahulu itu dilemparkan ke dalam goa untuk menjadi santapan naga
- Permainan akan dimulai kembali. Dengan terdengarnya nyanyi, ular naga kembali bergerak dan menerobos gerbang, dan lalu ada lagi seorang anak yang ditangkap. Perbantahan lagi. Demikian berlangsung terus, hingga induk akan kehabisan anak dan permainan selesai

2. Permainan Ular Naga
Ular naga adalah satu permainan berkelompok yang biasa dimainkan di luar rumah di waktu sore dan malam hari. Tempat bermainnya di tanah lapangan atau halaman rumah yang agak luas. Lebih menarik apabila dimainkan di bawah cahaya rembulan.Pemainnya biasanya sekitar 5-10 orang, bisa juga lebih, biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak yang berusia 5-12 tahun. Permainan ular naga ini menjadi populer dikalangan anak perempuan karena, permainan ini dilakukan dengan cara sambil bernyanyi. Namun, anak laki-laki juga terkadang ikut memainkan permainan ular naga ini.
 3. Media Permainan dan Cara Bermain
- Pemain 5-10 orang
- Lagu untuk mengiringi permainan. Untuk lagu dalam permainan ular naga biasanya menyanyikan lagu ular naga. Namun, lagu tersebut dapat dirubah sesuai dengan keinginan dan para pemain tersebut, berikut lirik dari lagu ular naga ;
versi 1
" ular naga panjangnya bukan kepalang menjalar-jalar selalu kian kemari umpan yang lezat itulah yang dicari ini dia nya yang terbelakang"
versi 2
" ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari umpama lezat inilah yang dicari itu dia nya yang dibelakang"
-  Pada mulanya anak-anak yang berperan sebagai ular naga berbaris dengan rapi sampai ke belakang, yang tangkas dalam berbicara berada di paling depan karena dia nantinya yang akan menuntun permainan atau sebagai juru bicaranya
- Kemudian mengitari induk atau bisa disebut juga dengan gerbang masuk naga sambil menyanyikan lagu yang telah tertara di atas
- Pada saat lagu tengah selesai dinyayikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang
- Lalu setelah itu barulah induk angkat bicara, mulailah si induk bernegosiasi dengan gerbang saling bantah membantah prihal anaknya yang telah tertangkap
- Dan pada akhirnya sang anak atau barisan paling belakang memang harus ditangkap begitu seterusnya, lalu anak yang telah disandera disuruh memilih ditempatkan di belakang salah satu orang yang menjadi gerbang
- Penyaderaan anggota akan terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota. Dan kemudian permainan akan diulang membentuk ular naga baru

4. Manfaat Permainan Ular Naga
Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari permainan ular naga. Berikut adalah beberapa manfaat positif yang dapat kita ambil khusunya bagi anak-anak yaitu :
a. Semakin mempererat ikatan kita dengan teman
b. Belajar berbagi dan belajar bagaimana kita mempertahankan teman kita
c. Belajar menjadi pemimpin yang baik bagi adik-adik kita
d. Akan terlatih emosional dan kecakapannya dalam berkomunikasi
e. Selai itu permainan ini juga mendidik anak tentang arti kebersamaan dan menghargai orang lain, tanpa menghiraukan adanya kemenangan atau kekalahan yang diperoleh pada saat bermain



Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

         Penelusuran perkembangan bahasa indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu bertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasasti itu mengungkapkan sesuatu yang menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu. Nama-nama prasasti adalah:
  1.  Kedukan Bukit (683 Masehi)
  2. Talang Tuwo (684 Masehi)
  3. Kota Kapur (686 Masehi)
  4. Karang Brahi (686 Masehi)
  5. Gandasuli (832 Masehi)
  6. Bogor (942 Masehi) dan
  7. Pagaruyung (1356) (Abas, 1987:24)
       Prasasti-prasasti itu memuat tulisan Melayu Kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta.
  1.  Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi sungai Tatang di Sumatra Selatan, yang bertahun 683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat nama Sriwijaya
  2. Prasasti Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka, menjelaskan tentang konstruksi bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas printah Hyang Sri Jayanaca sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri. Prasasti ini juga memuat berbagai mantra suci dan berbagai doa untuk keselamatan raja.
  3. Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangsa dan Prasasti Karang Brahi di Kambi, keduanya bertahun 686 Masehi atau 608 Saka, isinya hampir sama, yaitu permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan kerajaan Sriwijaya, agar menghukum para penghianat dan orang-orang yang memberontak kedaulatan raja. Juga berisi permohonan keselamatan bagi mereka yang patuh, taat dan setia kepada raja Sriwijaya.
         Selain berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan sumber informasi tentang asal-usul bahasa Melayu. Sejarah kuno negeri Cina turut membuktikan tentang keberadaan bahasa Melayu tersebut. Pada awal masa penyebaran agama Kristen, pengembara-pengembara cina yang berkunjung ke Kepulauan Nusantara menjumpai adanya berbagai lingua france yang mereka namai Kw'en Lun di Asia Tenggara. Salah satu di antara Kw'en lun itu oleh I Tsing diidentifikasi di dalam Chronicle-nya sebagai bahsa melayu. Untuk keperluan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, Traktat London (Perjanjian London) 1824 antara pemerintah inggris dan Belanda merupakan tonggak sejarah yang sangat pentig. Sebab, pada traktat itu antara lain berisi kesepakatan pembagia dua wilayah, yaitu:
  • Semanajung Melayu dan Singapura beserta pulau-pulau kecilnya menjadi kekuasaan kolonial Inggris;dan 
  • Kepulauan Nusantara (Kepulauan Sunda besar: pulau-pulau Sumatera,Jawa, sebagian Borneo/ Kalimantan, dan Sulawesi, Kepulauan Sunda kecil: pulau-pulau Bali, Lombok, Flores, Sumbawa, Sumba, Sebagian Timor, dan lain-lain ; Kepulauan Maluku dan sebagian Irian) menjadi kekuasaan kolonial Belanda  
        " Bahasa mereka, yaitu bahsa Melayu bukan saja digunakan di pantai-pantai tanah Melayu, melainkan juga di seluruh India dan di negeri-negeri sebelah timur. Di mana pun bahasa ini dipahami oleh setiap orang. Bahasa ini bagaikan bahasa Prancis atau bahasa latin di Eropa, atau semacam bahasa perantara di Itali atau di Levent. Oleh karena banyaknya bahasa ini digunakan, maka seseorang yang mampu bertutur dalam bahasa Melayu akan dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun Filipina."
         Bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Karena sifat kekunoannya itu, banyak ahli bahasa menyebut bahasa pada era Kerajaan Sriwijaya itu sebagai bahasa Melayu Kuno. Sementara itu, bahasa Melayu pada sub-era Kerajaan Riau atau Kerajaan Melayu Riau sama sekali tidak dipengaruhi oleh bahasa sansekerta dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Riau. Oleh sebab itu, bahasa ini disebut "Bahasa-bahasa Melayu Riau". Terdapat tiga periode dalam sub-era ini, seperti diuraikan berikut ini. Seperti telah dikatakan sebelumnya, tentara kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Tumasik yang memaksa pusat kekuasaannya dipindahkan ke Malaka di Semenanjung Malaya. Adat-istiadat dan bahasa yang dibawa dari Tumasik dipertahankan, dan mulai saat itu dan seterusnya bahasa Melayu Riau berkembang dan tersebar ke hampir seluruh penjuru Semenanjung Melaya.
        Kerajaan Malaka berkibar selama hampir 100 tahun. Lokasinya yang berbeda di pintu gerbang Selat Malaka, yaitu rute lalu lintas pelayaran yang ramai dan penting yang menghubungkan antara Asia Timur dan Asia barat, antara Asia timur dan Eropa, antara Samudra India dan Laut Cina Selatan dan antara Samudra India dan Samudra Pasifik, Malaka merupakan pelabuhan yang paling sibuk di kawasan Asia Yenggara pada waktu itu.
        Pada peralihan abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama islam. Menjelmanya kota itu menjadi pusat penyebaran agama islam. Dengan demikian, Malaka menjadi pusat dua kegiatan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama islam. Sebenarnya, kedua kegiatan ini terlaksana secara bersamaan, sebab para guru dan penganjur agama islam, dalam melaksanakn misinya itu, mengikuti perjalanan para pelaut dan pedagang, mempergunakan bahasa Melayu.
         Pada tahun 1511, misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Pusat perkembangan dan penyebaran bahsa Melayu, dam penyebaran ajaran agama islam pindah ke Johor. Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu tetap berlangsung.Berkat orang Protugis, penggunaan bahasa Melayu tidak terbatas hanya di kawasan Asia Tenggara saja, melainkan meluas ke pusat-pusat perdagangan di India dan Cina Selatan. Sebagai bukti, Arranari, seorang pengarang dan teolog islam yang lahir dan besar di India telah menguasai bahasa Melayu dengan baik ketika ia tiba di Aceh tahun 1637. Hal ini hanya mungkin apabila bahasa Melayu telah banyak dipergunakan di Gujarat pada masa itu (Alisjahbana dalam Fishman, 1974 :394). Bahasa Melayu menambah jalannya juga ke benua Eropa dalam abad ke-16. Karena bahasa Melayu lah yang dipergunakan oleh para raja atau pangeran Melayu ketika berkomunikasi dengan raja Protugis. Pada waktu yang sama, St. Francis Xavier mempergunakan bahasa Melayu untuk mengajak penduduk Maluku memeluk agama Kristen. Xavier sendiri mengatakan bahwa bahasa melayu merupakan bahasa yang dimengerti oleh hampir setiap orang.
         Pada tahun 1719 Raca Kecil, dari Istana Kerajaan Johor, dipaksa memindahkan pusat kekuasaannya ke Ulu Riau, di Pulau Bintan, salah satu pulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu periode Kerajaan Riau dan Lingga. Dalam periode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri ke-Riau-annya, dan bahasa Melayu Riau inilah yang merupakan cikal bikal bahasa Nasional Indonesia yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 191, ketika kerajaan itu dihapus oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga momentum yang panting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa Melayu Riau, yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir ; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul Katiban, suatu tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau; dan tahun 1894, ketika percetakan Mathba'atul Riauwiyah atau Mathbah'atul Ahmadiyah didirika. Pengoperasian percetakan Mathba'atul Riauwiyah ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara. Yang lebih penting adalah usaha pembakuan bahasa Melayu Riau sudah dimulai. Selama perang antara Prancis dan Ingris yang berlangsung di Eropa, yang berakibat Negeri Belanda sempat diduduki Peranci beberapa tahun, selama itu terjadi pula perang antara kekuasaan Ingris di Asia Tenggara dan kekuasan Belanda yang tunduk kepada Pemerintah Perancis di Kepulauan Nusantara. Dari sudut pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, konflik antara Inggris dan Belanda sangat penting, karena konfrontasi antarkedua kekuasaan itu berakhir pada pembagian kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua, berdasarkan variasi bahasa Melayu yang dipergunakan di kawasan itu, yaitu bahasa Melayu Johor dan bahasa Melayu riau. Bahasa Melayu Riau dan Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, berkembang dan menyebar dengan dengan sangat pesat, sesuai dengan keperluan masyarakat yang bersangkutan sebagai alat komunikasi lisan. Bahkan, sejak berlakunya Persetujuan London atau Traktat London, bahasa Melayu Riau mendapat status yang baik dalam kesusastraan dunia. Berbagai karya kesusastraan yang cukup tinggi nilainya yang ditulis oleh penutur asli bahasa Melayu Riau diterbitkan. Pada tahun 1857, misalnya Raja Ali Haji menerbitkan bukunya yang berjudul Bustanul Katiban, sebuah buku tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau. Buku tatabahasa ini selama berpuluh-puluh tahun dipergunakan oleh sekolah-sekolah di wilayah Kerajaan Riau dan Lingga, dan di Singapora.
            Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendiri. Di samping itu, bahasa Melayu yang sejak dulu lingua franca meningkat statusnya menjadi bahasa yang memiliki norma supra-etnik dikuasi oleh hampir semua orang yang suka belayar atau bepergian ke mana-mana.





Daftar Pustaka
Zulkifli, dkk. 2012. Bahasa Indonesia. Tarakan: Universitas Borneo Tarakan

Ilmu sastra, Teori sastra , Sejarah sastra dan Kritik sastra

Pengertian Teori sastra, kritik sastra dan sejarah sastra

           Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori , kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahun dari suatu titik pandangan tertentu.Suatu teori dapat didedukasi secara logis dan dicek kebenarannya ( diverifikasi) aau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.
             kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra . Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterar, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.
             Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik

Hubungan Teori sastra, Kritik sastra dan Sejarah sastra
             Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah , mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra.
               Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra. sejarah sastra adalah bagian dari llmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
                 Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada priode-priode tertentu .

SINTAKSIS

Sintaksis adalah cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase. (Ramlan)

Frase merupakan gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan)

Jenis Frase
1. Frase Endosentrik
a. Frase Endosentrik Koordinatif
"Frase yang unsur-unsurnya setara dalam kalimat dapat dihubungkan dengan kata dan, atau"
contoh : Rumah pekarangan
             Kakek nenek

b. Frase Endosentrik Atributif
" Frase yang unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau"
contoh : Buku baru
             Sedang belajar
c. Frase Endosentrik Apositif
"Frase yang unsurnya baik saling menggantikan dengan kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau"
contoh : Amin, anak pak Darto sedang belajar

2. Frase Eksosentrik
"Frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya"
contoh : di pasar
             ke sekolah

Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata
a. Frase Verbal
" satuan bahasa uang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan verba (kerja) sebagai intinya dan tidak merupakan klausa ( berpotensi menjadi kalimat) "
contoh : Kapal laut itu sudah berlabuh
             Ibu saya belum pergi

b. Frase Nominal
" satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa"
contoh : Bapak membeli tiga buah kue
             Rita makan beberapa butir telur

c. Frase Adjektiva
" satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa"
contoh : Nenek kakekku sangan gembira
             Lukisan itu sangat indah

d. Frase Pronomina
"satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang)dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat
contoh : Saya sendiri akan pergi ke sekolah
             Kami sekalian akan berkunjung ke Balikpapan

e. Frase Numeralia
" dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia"
contoh : Dua buah rumah sedang Terbakar

MORFOLOGI

Morfologi ialah cabang tata bahasa yang mempelajari seluk-beluk kata
morfem yang berdekatan dengan alomorf dan morfotonemik

Macam-macam proses morfologis
1. Proses pembubuhan Afiks ( afiksasi)
afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. sedangkan kata yang dapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas. morfem bebas merupakan kata dasar yang dapat berdiri sendiri . kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja dan lain-lain. penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
Afiksasi terdiri atas
a. Prefiks yaitu awalan atau unsur lingual yang melekat pada bagian awal kata dasar
contoh : me-, ber- , di- , ke- , ter- , se-
b. Sufiks yaitu akhiran atau unsur lingual yang melekat pada bagian akhir kata dasar
contoh : -kan, -i ,-an
c. Infiks yaitu sisipan atau unsur lingual yang menyisip pada bagian tengah kata dasar
contoh : -el-, -em- , -er-, -in-
d. Konfiks yaitu gabungan prefiks dan sufiks pada sebuah kata dasar
contoh :
me - kan-i , ber + an/kan
e. Simulfiks yaitu melekatnya prefiks dan sufiks bersama-sama pada kata dasar
contoh ke-an

2. Komposisi atau Pemajemukan  dalam Bahasa Indonesia
komposisi adalah proses kata pemajemukan. kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953) contoh : Keras + kepala = Keras kepala
             Kamar + mandi = Kamar mandi
             Kumis + Kucing = Kumis kucing
kumis kucing dalam arti " sejenis tanaman" adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti " kumis dari seekor kucing" bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan

3. Pengulangan ( Reduplikasi)
pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh maupun sebagian baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah-rumah dari bentuk dasar rumah
setiap kata ulang sudah pasti memiliki bentuk dasar. kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir dan lainnya dalam tinjauan deskritif tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari dereta morfologi dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut. secara historik atau komparatif mungkin kata-kata itu dapat dimasukkan kedalam golongan kata ulang.

Pengertian morfem
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal, morfem mempunyai makna.
menurut bentuk dan maknanya, morfem dibagi menjadi 2 :
1. morfem bebas, yaitu morfem yang berdiri sendiri dari segi makna tanpa harus dihubungkan dengan morfem lain. semua kata dasar tergolong morfem
2. morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dari segi makna. semua imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) tergolong sebagai morfem terikat
dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata, frase, klausa, kalimat. dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan
contoh :
dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingkan dengan kata
1. di ambil-ambil
2. di bawa-bawa
3. di curi-curi
4. di dukung-dukung









Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan







TUGAS FONOLOGI

Konsonan vokal a
penyelesaiannya : lidah pada posisi bawah dan bibir berbentuk bulat
konsonan vokal i
pemyelesaiannya : lidah pada posisi tinggi dan bibir berbentuk pipih
konsonan vokal u
penyelesaiannya : lidah pada posisi netral dan bibir berbentuk bulat
konsonan vokal e
penyelesaiannya : lidah pada posisi tinggi dan bibir berbentuk pipih
konsonan vokal o
penyelesaiannya : lidah pada posisi bawah dan bibir berbentuk bulat

konsonan b
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan c
penyelesaiannya : konsonan yang artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan d
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan f
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
konsonan g
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan h
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru menggesek dinding tenggorokan/laring
konsonan j
penyelesaiannya :konsonan lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan k
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan l
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan m
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan n
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
konsonan p
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan q
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan r
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulas
konsonan s
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan t
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator diantara dentum atas dan dentum bawah
konsonan v
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
konsonan w
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
konsonan x
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut
konsonan y
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan z
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi

konsonan kluster kh
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster sy
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster ng
penyelesaiannya : konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai titik artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
konsonan kluster ny
penyelesaiannya : lamino sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi

Fonologi

FONOLOGI

Fonologi ialah cabang tata bahasa yang mempelajari bunyi bahasa
Fonologi memiliki 2 cabang sub kajian yaitu fonemik dan fonetik
Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari alat dan proses pembentukan fonem

Alat ucap manusia
1. Labium bawah
2. Labium atas
3. Dentum
4. Apek / ujung lidah
5. Alveolum / lekung kaki gigi
6. Palatum / langit-langit keras
7. Lamino / daun lidah
8. Velum / langit-langit lunak
9. Dorsum / belakang lidah
10. Uvula / anak tekak
11. Epiglotis / kelap jakun
12. Pharin / pangkal tenggorokan
13. Larin / rongga tenggorokan
14. Pita suara

Alat-alat ucap manusia diatas terbagi menjadi 3 golongan berdasarkan fungsinya masing-masing yaitu
1. Artikulator yaitu alat ucap yang bergerak
a. Labium bawah
b. Apek / ujung lidah
c. Lamino / daun lidah
d. Dorsum

2. Titik artikulasi alat ucap yang menjadi tempat tumpuan terjadinya bunyi bahasa
1. Labium atas
2. Dentum
3. Alveolum
4. Palatum
5. Velum

3. Alat-alat akustik yaitu alat ucap yang paling vital perananya dalam proses pembentukan bunyi bahasa
a. Nasal / rongga hidung
b. Oral / rongga mulut
c. Uvula
d. Epiglotis
e. Pharinx
f. Larinx
g. Pita suara

Pembagian konsonan / bunyi bahasa berdasarkan alat ucap
1. Konsonan dilabial / labium bibir
          Yaitu konsonan yang terjadi karena pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan labium atas sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan B dan P

2. Konsonan labium dental
          Yaitu konsonan yang terjadi pertemuan antara labium bawah sebagai artikulator dan dentum atas sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan F dan V

3. Konsonan apikointerdental
          Yaitu yang terjadi karena apek sebagai artikulator diantara dentum atas dan dentum bawah
contoh : konsonan T

4. Konsonan apikoalveolar
          Yaitu konsonan yang terjadi karena apek sebagai artikulator menyentuh alveolum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan D dan N

5. Konsonan laminopalatal
         Yaitu lamoni sebagai artikulator dan palatum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan C, J , S dan Z

6. Konsonan Dorsovelar
         Yaitu konsonan yang terjadi karena dorsum sebagai artikulator menyentuh velum sebagai titik artikulasi
contoh : konsonan G dan K

7. Konsonan Glotal
          Yaitu konsonan yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru membentuk epiglotis

8. Konsonan laringal
          Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru menggesek dinding tenggorokan / laring
contoh : konsonan H

9. Konsonan Nasal
          Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga hidung
contoh : Konsonan M dan N

10. Konsonan Oral
             Yaitu konsonan yang terjadi karena udara keluar dari paru-paru melalui rongga mulut
contoh : konsonan B ,C , D, F dan G

Vokal
Jenis-jenis vokal dapat diketahui melalui
a. Posisi lidah
1. Vokal tinggi yaitu lidah pada posisi tinggi ketika vokal ini diucapkan
contoh : I dan E
2. Vokal tengah yaitu lidah pada posisi netral
contoh : E dan U
3. Vokal bawah yaitu lidah pada posisi bawah/rendah
contoh : A dan O

b.Bentuk bibir
1. Vokal pipih yaitu bibir berbentuk pipih
contoh : I dan E
2. Vokal bulat/bundar
contoh : A,U dan O



Sabtu, 18 Maret 2017

Kongres Bahasa Indonesia


Kongres Bahasa Indonesia I

Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal 18 Agustus 1945, dilakukan pendatangan Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
Tokoh-tokoh Kongres Bahasa indonesia I
1. Mr. Amir Sjarifoeddin 
2. St. Takdir Alisjahbana
3. Mr. Muh Yamin
4. K.St. Pamoentjak
5. Adi Negoro
6. Ki Hadjar Dewantara




Kongres Bahasa Indonesia II
  • Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
  • Tanggal 16 Agustus 1972 H.M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
  • Tanggal 31 Agustus 1972 Mentri Pendidikan dan Kebudayaan  menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
Pimpinan Kongres
1. Mr. Muhadi
2. Dr.A. Sofjan
3. Prof. Prijana
Kongres Bahasa Indonesia III

Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantabkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia. Pidato Peresmian Pembukaan Kongres Bahasa Indonesia ketiga oleh Presiden Republik Indonesia Suharto, pada tanggal 28 Oktober 1978 dan pidato pengarahan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daud Joesoef, pada tangal 30 Oktober 1978.

Kongres Bahasa Indonesia IV

 Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-garis besar haluan negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin. Pidato pengarahan dalam peresmian pembukaan Kongres Bahasa Indonesia Keempat oleh Mentri Nugroho Notosusanto.



Kongres Bahasa Indonesia V

 Tanggal 28 Oktober hingga 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengambangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Pidato peresmian pembukaan oleh Presiden Republik Indonesi, Soeharto, pada tangal 28 Oktober 1988, pidato pengarahan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan , Prof . Dr. Faud Hassan, pada tanggal 29 Oktober 1998, dan setelah memperhatikan laporan Kepala Pusat pembinaan dan Pengambangan Bahasa, Anton M. Moeliono.
Kongres Bahasa Indonesia VI

Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Diikuti oleh peserta sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan penyusunan Undang-Undang Bahasa Indonesia.
Panitia Perumus
1. Hanimurti Kridalaksana (Ketua merangkap anggota)
2. S.R.H. Sitanggang (Sekretaris merangkap anggota)
3. A.Latief (anggota)
4. Achadiati Ikram (anggota)
5. Amran Halim (anggota)
6. Anton.M. Moeliono (anggota)
7. Hans Lapoliwa (amggota)
8. Hasan Lawi (anggota)
9. Lien Surianegara (anggota)
10. Mansoer Pateda (anggota)
11. Soesono Kartomihardjo (anggota)
12. Yohanes Kalamper (anggota)


 Kongres Bahasa Indonesia VII

 Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa.
 Tim Perumus
1. Hasan Ali (Ketua merangkap anggota)
2. Dendy Sugono (Sekretaris merangkap anggota)
3. A. Latief (anggota)
4. Amran Halim (Anggota)
5.Soenjono Dardjowidjojo (anggota)
6. Yus Rusyana (anggota)
7. Budi Darma (anggota)
8. Fuad Abdul Hamid (Anggota)
9. T.A. Ridwan (anggota0
10. Zainuddin Taha (anggota)

Kongres Bahasa Indonesia VIII

Pada bulan Oktober tahun 2003, para pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia ke- VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga Kongres Bahasa Indonesia.
Tim Perumusan dan Narasumber Kongres Bahasa Indonesia VIII
1. Abdul Wahab (ketua)
2. Sugiyono (Sekretaris)
3. Abdul Djunaidi (Anggota)
4. Ayu Sutarto (Anggota)
5. H. Hunggu Tadjuddin Usup (Anggota)
6. Riris K. Toha-Sarumpaet (Anggota)
7. Suminto A. Sayuti (Anggota)
8. T.D Asmadi (Anggota)
9. Threes Y. Kumanireng (Anggota)
10. Willy Pramudya (Anggota)

Narasumber
1. A.Latief
2. Dendy Sugono
3. Hasal Alwi
4. Soenjono Dardjowidjojo

Kongres Bahasa Indonesia XI

Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesusasteraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan Kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober-1 November 2008 di Jakarta.
Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres tahun ini.




Daftar Pustaka

Muslich Masnur. 2012. Perencanaan Bahasa Pada Era Globalisasi. Jakarta: Pt Bumi Aksara
https://id.wikipedia.org/wiki/Kongres

Jumat, 10 Maret 2017

Cinta Bahasa Indonesia

          Bagi suatu bangsa, bahasa yang dimilikinya bukan sekedar alat komunikasi belaka, walaupun memang fungsi sosial utama dari bahasa tersebut adalah sebagai alat komunikasi. Dikatakan demikian karena untuk berkomunikasi bisa saja bangsa tersebut memilih bahasa lain selain bahasanya sendiri. Misalnya, warga bangsa indonesia tidak selalu memakai bahasa indonesia untuk berkomunikasi. Mereka bisa saja memakai bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, bahasa Sumbawa, bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan alat komunikasi lain yang biasa disebut bahasa. Walaupun ada sekian bahasa yang bisa dipakai berkomunikasi seperti halnya kalau mereka menggunakan bahasa indonesia, namun bahasa indonesia tetap memiliki nilai tersendiri dalam keseluruhan kehidupan bangsa indonesia ini. 
          Prof. Dr . Slametmuljana di dalam pidato inagurasinya sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia pada tahun 1958, mencakup sikap mental bahasa ini di dalam apa yang disebutnya spirit, dengan mengambil contoh situasi kebahasaan masyarakat indonesia. Dikatakannya bahwa di antara suku-suku bangsa indonesia ada yang masih dengan gigihnya mempertahankan/ membina bahasa baku /bahasa daerahnya karena besarnya spirit kesukuannya, disamping memang banyak suku-suku yang tidak tertarik lagi kepada bahasa daerahnya sehingga bahasa daerah ini mati tanpa pembela. Apa pun istilah yang digunakan, rupanya ada benarnya kalau dikatakan setiap bangsa memilki sikap mental tertentu terhadap bahasanya.
           Unsur-unsur kejiwaan yang termasuk ke dalam sikap mental bahasa ini adalah :rasa setia bahasa (language loyality); rasa bangga bahasa (language proud); rasa hormat bahasa (language honour); dan rasa perihatin akan norma-norma bahasa (awareness of the norms).
            Uriel Weinriech melihat adanya kesejajaran antara bahasa dan rasa setia bahasa di satu pihak dengan bangsa (nationality) dan rasa kebangsaan (nationalism) di lain pihak. Winriech melihat rasa setia bahasa itu tak ubahnya sebagai suatu kekuatan dari dalam jiwa suatu bangsa yang menimbulkan anggapan bahwa bahasanya memiliki nilai-nilai yang tinggi dan di pihak lain dia juga merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong bangsa itu mempertahankan bahasanya. Wujud-wujud dari dorongan yang terakhir ini antara lain menolah perubahan-perubahan yang terjadi dalam bahsanya, karena dianggapnya perubahan itu "merusak"; menolak pemindahan (transferensi) unsur-unsur bahasa lain membahayakan bahasanya. Apalagi kalau transferensi itu bersifat struktural. Penolakan yang terakhir ini terjadi kalau antara bahasa itu telah terjadi kontak dengan bahasa lain.
          Terlepas dari luasnya motif yang melatarbelakangi gerakan pembinaan bahasa ini sebagai akibat dari kontak bahasa, maka salah satu hal yang sama di dalamnya adalah berkembangnya rasa setia bahasanya yang terutama mendorongnya. Lalu, bagaimanakah masalahnya dengan pembinaan bahasa indonesia jika dilihat dari segi rasa setia bahasa ini? Kondisi objektif bahasa indonesia yang ada sekarang ini menuntut segera dilaksanakan pembinaan. Lebih-lebih lagi kalau dilihat posisi dan fungsi bahasa indonesia dalam keseluruhan kehidupan bermasyarakat dan berbudayanya bangsa indonesia, masa kini dan masa-masa yang akan datang, tidak bisa diingkari lagi akan perlunya pembinaan bahasa indonesia ini. Tentu saja kita tidak hanya menempatkan bahasa indonesia ini sebagai simbol yang penting untuk dibanggakan saja, seperti sinyalemen Georg Mc.Quim (Kompas,16 Agustus 1971). Kita menginginkan bahasa Indonesia ini sebagai bahasa yang mampu mewadahi prestasi bangsa di samping sebagai simbol prestise bangsa. Salah satu contohnya, kita harapkan bahasa Indonesia ini mampu sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
            Bahasa Indonesia bukan saja tidak dibina dengan baik, bahkan mungkin diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Kebanyakan orang sekarang ini tidak memiliki keprihatinan akan norma-norma Bahasa Indonesia dan lebih suka memilih prinsip "pokoknya asal dipahami saja". Kesuraman bagi bahasa indonesia agaknya makin menjadi-jadi lagi dengan tidak mempunyai bahasa indonesia yang dapat memberikan status dan yang menguntungkan bagi pembina-pembinaannya. Pembinaan bahasa indonesia hanya akan berhasil, kalau rasa setia bahasa warga indonesia telah kembali ke dalam jiwanya. 

daftar pustaka
Muslich Masnur. 2012. Perencanaan Bahasa Pada Era Globalisasi. Jakarta: Pt Bumi Aksara
           

Kamis, 09 Maret 2017

Bahasa Baku dan Tidak Baku



Bahasa baku adalah ragam bahasa yang cara pengucapan dan penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar. Kaidah standar dapat berupa pedoman ejaan (EYD), tata bahasa baku, dan kamus umum. 

Berkaitan dengan kapan ragam baku digunakan, kridalaksana (1978) merumuskan empat situasi penggunaan bahasa baku sebagai berikut:
  1. Digunakan dalam situasi resmi, yaitu dalam surat menyurat resmi, pengumuman yang dikeluar oleh instansi resmi, penamaan dan peristilahan resmi perundang-undangan dan sebagainya.
  2. Digunakan dalam wacana teknis, yaitu dalam laporan resmi dan karangan ilmiah 
  3. Digunakan dalam pembicaraan di depan umum yaitu dalam ceramah, kuliah, khotbah
  4. Digunakan saat berbicara dengan orang-orang yang dihormati, yaitu orang yang lebih tua, lebih tinggi status sosialnya, atau orang yang baru dikenal
Fungsi bahasa baku adalah sebagai berikut:
  1. Pemersatu, pemakaian bahasa baku dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa 
  2. Pemberi kekhasan, pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya
  3. Pembawa kewibawaan, pemakai bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya
  4. Kerangka acuan, bahasa baku menjadi tolak ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang
         Bahasa Non baku merupakan kata yang dipakai tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa yang sudah ditentukan. Biasanya kata tidak baku sering dipakai pada saat percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur. Adapun faktor-faktor yang bisa mengakibatkan munculnya kata non baku, yang diantaranya yaitu sebagai berikut ini:
  1. Yang memakai bahasa tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan suatu kata, itulah yang mengakibatkan kata non baku selalu ada 
  2. Yang memakai bahasa dapat terpengaruh oleh orang-orang yang terbiasa memakai kata yang non baku  
  3.  Dan yang terakhir, yang memakai bahasa dapat terbiasa memakai kata non baku
Fungsi penggunaan bahasa non baku adalah untuk mengakrabkan diri dan menciptakan kenyamanan serta kelancaran saat berkomuniksi (berbahasa). 

Contoh Bahasa Indonesia Baku dan Tidak baku
contoh dalam bentuk kata



NO
Tidak Baku
Baku
1.
Situ
Anda, Saudara
2.
Apotik
Apotek
3.
Aktiv, Aktip
Aktif
4.
Dikasih
Diberi
5.
Tradisionil
Tradisional
6.
Kwalitas
Kualitas
7.
Jadual
Jadwal
8.
Empatpuluh, Ampat puluh
Empat puluh
9.
Jum’at
Jumat
10.
Tekhenik,tehnik
Teknik
11.
Pasca sarjana
Pascasarjana
12.
Telpon, tilpun
Telepon
13.
Managemen,manejemen
Manajemen
14.
Legalisir
Legalisasi

Contoh kalimat bahasa baku
  1. Ayah memberikan adik uang
  2. Saya sudah membelikan buku untuk mu
  3. Setiap hari rabu akan diadakan kegiatan pramuka
  4. Hari ini semua atlet berkumpul di stadion datu adil
  5. Rina dan Rini pergi sekolah menggunakan transportasi bis
  6. Acara itu sangat formal
  7. Rita sudah menghafalkan tugas presentasi besok
  8. Semua siswa akan mengadakan ujian sekolah di bulan februari
  9. Ani sudah paham pembelajaran hari ini
  10. Wahyu sudah membuat metode pembelajaran yang akan dia presentasikan 
  11. Ibu Ayu terampil membuat kerajinan dari  kertas bekas
  12. Bagi orang yang berkepentingan dipersilahkan masuk 
  13. Kiki menjadi narasumber di acara tersebut
  14. Andi mendengarkan nasihat dari ibunya
  15. Semua warga negara asing berhak mempunyai paspor
  16. Kedua anak itu saling memaafkan setelah dilerai oleh ibu guru
  17. Membuat sebuah kerangka rumah itu sangatlah susah
  18. Yogi sangat tidak profesional dalam melasanakan tugas yang diberikan kepadanya
  19.  Ayah sudah membetulkan mobil nya
  20. Ia sudah tahu bahwa anaknya rajin
 Daftar Pustaka
Indradi Agustinus.2003.Cermat Berbahasa Indonesia.Indonesia.:Dioma
Arifin Zaenal.2004.Cermat Berbahasa Indonesia untu perguruan.Indonesia.:Akademik Presindo

s