Jumat, 10 Maret 2017

Cinta Bahasa Indonesia

          Bagi suatu bangsa, bahasa yang dimilikinya bukan sekedar alat komunikasi belaka, walaupun memang fungsi sosial utama dari bahasa tersebut adalah sebagai alat komunikasi. Dikatakan demikian karena untuk berkomunikasi bisa saja bangsa tersebut memilih bahasa lain selain bahasanya sendiri. Misalnya, warga bangsa indonesia tidak selalu memakai bahasa indonesia untuk berkomunikasi. Mereka bisa saja memakai bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, bahasa Sumbawa, bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan alat komunikasi lain yang biasa disebut bahasa. Walaupun ada sekian bahasa yang bisa dipakai berkomunikasi seperti halnya kalau mereka menggunakan bahasa indonesia, namun bahasa indonesia tetap memiliki nilai tersendiri dalam keseluruhan kehidupan bangsa indonesia ini. 
          Prof. Dr . Slametmuljana di dalam pidato inagurasinya sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia pada tahun 1958, mencakup sikap mental bahasa ini di dalam apa yang disebutnya spirit, dengan mengambil contoh situasi kebahasaan masyarakat indonesia. Dikatakannya bahwa di antara suku-suku bangsa indonesia ada yang masih dengan gigihnya mempertahankan/ membina bahasa baku /bahasa daerahnya karena besarnya spirit kesukuannya, disamping memang banyak suku-suku yang tidak tertarik lagi kepada bahasa daerahnya sehingga bahasa daerah ini mati tanpa pembela. Apa pun istilah yang digunakan, rupanya ada benarnya kalau dikatakan setiap bangsa memilki sikap mental tertentu terhadap bahasanya.
           Unsur-unsur kejiwaan yang termasuk ke dalam sikap mental bahasa ini adalah :rasa setia bahasa (language loyality); rasa bangga bahasa (language proud); rasa hormat bahasa (language honour); dan rasa perihatin akan norma-norma bahasa (awareness of the norms).
            Uriel Weinriech melihat adanya kesejajaran antara bahasa dan rasa setia bahasa di satu pihak dengan bangsa (nationality) dan rasa kebangsaan (nationalism) di lain pihak. Winriech melihat rasa setia bahasa itu tak ubahnya sebagai suatu kekuatan dari dalam jiwa suatu bangsa yang menimbulkan anggapan bahwa bahasanya memiliki nilai-nilai yang tinggi dan di pihak lain dia juga merupakan kekuatan dari dalam yang mendorong bangsa itu mempertahankan bahasanya. Wujud-wujud dari dorongan yang terakhir ini antara lain menolah perubahan-perubahan yang terjadi dalam bahsanya, karena dianggapnya perubahan itu "merusak"; menolak pemindahan (transferensi) unsur-unsur bahasa lain membahayakan bahasanya. Apalagi kalau transferensi itu bersifat struktural. Penolakan yang terakhir ini terjadi kalau antara bahasa itu telah terjadi kontak dengan bahasa lain.
          Terlepas dari luasnya motif yang melatarbelakangi gerakan pembinaan bahasa ini sebagai akibat dari kontak bahasa, maka salah satu hal yang sama di dalamnya adalah berkembangnya rasa setia bahasanya yang terutama mendorongnya. Lalu, bagaimanakah masalahnya dengan pembinaan bahasa indonesia jika dilihat dari segi rasa setia bahasa ini? Kondisi objektif bahasa indonesia yang ada sekarang ini menuntut segera dilaksanakan pembinaan. Lebih-lebih lagi kalau dilihat posisi dan fungsi bahasa indonesia dalam keseluruhan kehidupan bermasyarakat dan berbudayanya bangsa indonesia, masa kini dan masa-masa yang akan datang, tidak bisa diingkari lagi akan perlunya pembinaan bahasa indonesia ini. Tentu saja kita tidak hanya menempatkan bahasa indonesia ini sebagai simbol yang penting untuk dibanggakan saja, seperti sinyalemen Georg Mc.Quim (Kompas,16 Agustus 1971). Kita menginginkan bahasa Indonesia ini sebagai bahasa yang mampu mewadahi prestasi bangsa di samping sebagai simbol prestise bangsa. Salah satu contohnya, kita harapkan bahasa Indonesia ini mampu sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
            Bahasa Indonesia bukan saja tidak dibina dengan baik, bahkan mungkin diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Kebanyakan orang sekarang ini tidak memiliki keprihatinan akan norma-norma Bahasa Indonesia dan lebih suka memilih prinsip "pokoknya asal dipahami saja". Kesuraman bagi bahasa indonesia agaknya makin menjadi-jadi lagi dengan tidak mempunyai bahasa indonesia yang dapat memberikan status dan yang menguntungkan bagi pembina-pembinaannya. Pembinaan bahasa indonesia hanya akan berhasil, kalau rasa setia bahasa warga indonesia telah kembali ke dalam jiwanya. 

daftar pustaka
Muslich Masnur. 2012. Perencanaan Bahasa Pada Era Globalisasi. Jakarta: Pt Bumi Aksara
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar